Social Icons

Pages

Featured Posts

Monday, November 4, 2013

WAJAH PENDIDIKAN INDONESIA




Wajah pendidikan di Indonesia hari ini tampaknya masih buram jika ditinjau dari lima pilar pendidikan UNESCO. Learning to know (belajar untuk mengetahui) masih terbingkai oleh besarnya arus pengejaran kualifikasi pendidikan atas dasar politis, kesejahteraan, dan alasan status sosial. Learning to do (belajar untuk dapat bekerja) menjadi pembahasan panjang dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang terampil. Motto Indonesia bisa masih merupakan slogan karena terbukti sebagian lembaga pendidikan masih menghasilkan lulusan rendah keterampilan yang berujung pada besarnya angka pengangguran. Begitu pula dengan Leraning to be (belajar untuk menjadi diri sendiri yang memiliki karakter dan akhlak mulia) masih menyisahkan banyak persoalan kehidupan mulai dari merebaknya pornografi dan pornoaksi hingga besarnya tindakan asusila yang menunjukkan tingginya angka kemerosotan moral, akhlak, dan budi pekerti yang mulia.  Learning to live together (belajar untuk hidup bersama) seolah mendapat hambatan yang begitu besar, malah cenderung tenggelam di balik besarnya perkelahian antara suku, ras, dan agama, tawuran massal, terperangkap dengan kehidupan primordial, sekat-sekat organisasi, dan kehidupan yang mengabaikan keberagaman. Seolah pendidikan telah kehilangan rohnya yang suci untuk mencerdaskan kehidupan manusia dan mengeluarkan manusia dari alam yang gelap-gulita menuju alam yang terang-benderang.

Untuk memperoleh informasi lengkap, Klik DI SINI 


VIDEO PEMBELAJARAN

Video Pembelajaran disimpan melalui Youtube yang dapat diakses oleh peserta didik kapan dan di mana saja. Video ini mencakup  pembelajaran yang berlangsung sebanyak sebelas kali pertemuan yang dipandu langsung oleh dua orang Dosen, yakni Dr. Muljono Damopolii, M.Ag. dan Dr. Muhammad Yaumi, M.Hum, M.A. Di dalam Video tersebut, perkuliahan dilakukan secara faca to face (tatap muka) yang direkam kemudian dirancang untuk perkuliahan online karena tersimpan secara online melalui situs dan alamatnya sebagai berikut:

1.  Kuliah I  

2.  Kuliah II


4.  Kuliah IV

5.  Kuliah V







Kuliah selanjutnya dapat menggunaan perangkat lunak online ain seperti face book, yahoo messenger, skype, dan telekonferens yang menggunakan mobilephone. 
 

Wednesday, October 30, 2013

MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DALAM ERA DIGITALISASI



Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sering menjadi penghalang tumbuh dan berkembangnya minat baca anak. Media digital dan elektronik telah berhasil menarik perhatian kebanyakan anak Indonesia yang secara langsung dan tidak langsung memicu aktivitas keseharian mereka lebih terkonsentrasi pada pemanfaatan media tersebut. Bahkan media telah mengambialih peran orang tua dalam mengembangkan kepribadian anak. Hal ini sejalan dengan pandangan Yaumi (2008) yang mengatakan bahwa anak yang hidup di perkotaan memiliki kebiasaan nonton televisi dan bermain video game, playstation, dan Internet yang rasionya 19 kali berbanding 1 kali berbicara dengan orang tua. Selain itu, transformasi budaya lisan (percakapan) ke budaya tulisan di kalangan masyarakat secara umum masih dalam tahap transisi, karena kecenderungan menerima informasi melalui percakapan atau disebut bahasa lisan kenyataannya lebih mendominasi dari minat dan kebiasaan membaca di kalangan siswa dan masyarakat. Sehingga kebiasaan membaca dan menulis masih belum berkembang dengan baik (Konsultan Perpustakaan, 2010).
Selanjutnya, sebagian besar orang Indonesia belum sampai pada tahap menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan yang mendasar (Kartika, 2010). Padahal membaca sangat perlu. Dengan membaca seseorang dapat memperluas wawasan dan pandangannya, dapat menambah dan membentuk sikap hidup yang baik, sebagai hiburan serta menambah ilmu pengetahuan, dengan membaca ibarat dapat membuka “jendela dunia”. Dengan membaca dapat dihindari sikap picik dan fanatisme yang negatif. Dengan demikian kualitas pendidikan di Indonesia masih menghadapi masalah dan bahkan ada indikasi keburaman.
Keburaman yang dimaksud dapat dilihat dari hasil survei World Competitiveness Year Book dari 55 negara yang disurvei kualitas pendidikan Indonesia berada pada urutan yang ke 53. Dampak dari kualitas pendidikan yang rendah ini mempengaruhi Human Development Index (HDI), dari 177 negara HDI Indonesia berada pada urutan ke-107. Kualitas pendidikan di Indonesia yang rendah, ternyata dipengaruhi oleh minat baca siswa yang rendah. Menurut International Association for Evaluation of Educational Achievement (IAEEA) minat baca anak-anak Indonesia selevel dengan Selandia Baru dan Afrika Selatan.
Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya minat baca ini adalah terbatasnya jumlah perpustakaan sekolah. Dari 200 ribu sekolah dasar di Indonesia cuma 20 ribu yang memiliki perpustakaan standar, sebanyak 70 ribu SLTP cuma 36% yang memenuhi standar. Untuk SMU, cuma 54% yang memiliki perpustakaan standar. Dapat disimpulkan bahwa perpustakaan sekolah selama ini belum dijadikan sebagai salah satu hal yang penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Pengelolaan perpsutakaan sekolah masih pula tertumpu pada anggaran yang diberikan oleh pemerintah. Untuk mengatasi masalah ini, perlu mengembangkan perpustakaan sekolah berbasis masyarakat. Makalah ini, tertumpu pada kajian pengoptimalan perpustakaan sekolah melalui penglibatan peran serta masyarakat tersebut.

Artikel Lengkap Klik DI SINI