Wajah pendidikan
di Indonesia hari ini tampaknya masih buram jika ditinjau dari lima pilar
pendidikan UNESCO. Learning to know (belajar untuk mengetahui) masih
terbingkai oleh besarnya arus pengejaran kualifikasi pendidikan atas dasar
politis, kesejahteraan, dan alasan status sosial. Learning to do
(belajar untuk dapat bekerja) menjadi pembahasan panjang dalam membangun sumber
daya manusia Indonesia yang terampil. Motto Indonesia bisa masih merupakan
slogan karena terbukti sebagian lembaga pendidikan masih menghasilkan lulusan
rendah keterampilan yang berujung pada besarnya angka pengangguran. Begitu pula
dengan Leraning to be (belajar untuk menjadi diri sendiri yang memiliki
karakter dan akhlak mulia) masih menyisahkan banyak persoalan kehidupan mulai
dari merebaknya pornografi dan pornoaksi hingga besarnya tindakan asusila yang
menunjukkan tingginya angka kemerosotan moral, akhlak, dan budi pekerti yang
mulia. Learning to live together (belajar untuk hidup bersama)
seolah mendapat hambatan yang begitu besar, malah cenderung tenggelam di balik
besarnya perkelahian antara suku, ras, dan agama, tawuran massal, terperangkap
dengan kehidupan primordial, sekat-sekat organisasi, dan kehidupan yang mengabaikan
keberagaman. Seolah pendidikan telah kehilangan rohnya yang suci untuk
mencerdaskan kehidupan manusia dan mengeluarkan manusia dari alam yang
gelap-gulita menuju alam yang terang-benderang.
Untuk memperoleh informasi lengkap, Klik DI SINI

Wajah pendidikan Indonesia masih buram
ReplyDeletesaya setuju bung
ReplyDelete